Selasa, Ogos 30

the one i can only miss

I was just wondering if you had time to see me and have a random talk
Why don't we sit down for a while and forget that you have him and I have no one
You picked a place that has always been our favourite
A dimmer lighting and a slower music

Here you are
Putting on a black wardrobe 
With a minimal makeup on
I have brought along my sunglasses 
Even there has been no sun since long ago 
It was pouring rain

I miss you
There, I said it
I miss the person you were when you're with me
The person who have been missing ever since
I miss your innocence laughs 
And the random talks you're going to tell me

You take a deep breath
Trying to get a grip in yourself
Enjoying your cup of coffee
Your favourite one
And telling me I was your caffeine
You were addicted to me

And then I realized that you're only reminiscing one of our memories
The past one
The one I can't go back

We get trapped in a long silence
A long pause
We just need a stopping point for everything, you say
I solemnly nodded and avoided your gaze

The hardest part was seeing you go
I was left alone
Just me and my downfall



Happy birthday, nota rojak

Jumaat, Julai 29

Lawyered

So today I got called to the Bar and am officially an Advocate & Solicitor of High Court of Malaya.

I look forward to destroying you in court. (The funniest joke I ever made?)



Tahniah cayank. Lelap mata tidoq sat.



Ahad, Mei 15

-

Hari yang bagus adalah hari yang kau perdengarkan lagu kesukaanmu dan kau nyanyikan sekali - di dalam lrt - pada hari minggu - setelah tenagamu dikerah untuk bekerja - dan tidak ada yang terganggu dengan nyanyianmu.

Tidak ada yang boleh kau kongsikan kedua belah earphone - kanan untuk telingamu, kiri juga untuk telingamu. Kau sering sekali mengadu hidup ini tidak adil - ketika rakan sekerja yang lain bersenang lenang, kau tidak punya cuti - tiada rehat.

Dan inilah aku - yang betapa ingin mempercayai kata-katamu itu. Mungkin ada baiknya aku senyum bersetuju saja. Atau turut sama menyokong bahawa teman sekerjamu lebih pintar mencari alasan.

Tetapi aku lebih mengenal dirimu - kau lebih sudi menghabiskan pekerjaanmu - sambil membiarkan bayanganku bermain-main di depan matamu.

Dan betapa aku ingin menjadi lebih dari sekadar bayangan - tidak mahu sekadar ada - tetapi selalu bersedia.

Aku tahu ini mungkin berlebihan - tetapi aku ingin sekali turut sama mendengarkan lagu kesukaanmu - menemanimu menghabiskan sisa hari ini - menghabiskan lagu ini.

Rabu, April 20

pulang

Saat-saat seperti ini, tugas di pejabat yang tak pernah habis, melayani kehendak-kehendak orang yang mendesak, makanku tergesa dan dicatu, badanku lesu seringkali sakit. Aku ingin pulang.

Waktu-waktu seperti ini, mereka berkongsi cerita bersama kedua orang tua, mengubat rindu yang mendesah hati, aku dikerah bekerja lebih waktu. Aku ingin pulang.

Kita sama-sama bekerja keras. Kita sama-sama mempunyai tujuan. Kita sama-sama menangguhkan keseronokan. Kita sama-sama melupakan angan-angan dan keegoan usia muda.

Supaya satu hari nanti kita bisa pulang. Kepada senyuman manis yang kita gemari. Kepada si dia yang sudi bertahan. Agar dia bahagia dan hidup selayaknya. 

Dan aku sendiri ingin pulang. Untuk segera berjumpa denganmu. Hingga hujung waktu.

Isnin, Jun 15

tahun-tahun hadapan

terlalu biasa kau katakan kau tidak begitu begini
tidak seperti perempuan lain
tidak sempurna serba serbi

pada akhirnya aku mengerti
ternyata dua mata kita
mempunyai cara yang berbeza
dalam melihat dunia
dalam melihat peribadi seseorang

tetapi aku ini tidak pandai bermain kata
yang aku tahu kau adalah kau
yang selalu mudah menerima sesuatu
selalu memandang hidup ini dengan kacamata yang sederhana

benar
aku terlalu payah mengajar mulut
untuk mengatakan apa yang sedang bermain di dalam hati

tetapi
saat ini kau harus percaya
bahawa aku adalah orang
yang akan selalu bersamamu
menuju tahun-tahun hadapan

Ahad, April 26

sebuah tanya

Pernah kau katakan bahawa kita ini adalah sebuah ketidakmungkinan. Ketika itu kau tanyakan sebenarnya apa yang aku lihat dalam dirimu. Tetapi ketika itu aku katakan bahawa aku sendiri tidak tahu. 

Aku lihat bagaimana bibirmu tersenyum mekar menceriakan hari-hariku. Bagaimana kau tidak pernah membiarkan siapa pun dekat denganmu, seperti sedang melindungi hati sendiri meski pernah suatu ketika dahulu dirobek. Kau selalu bersederhana, yang tak pernah macam-macam. Yang tak punya mimpi-mimpi besar, tetapi selalu memikirkan tentang masa hadapan yang belum punya kepastian. Kau mudah diajak berbicara, tetapi lebih senang untuk mendengar. Saat kau tatap mataku, sejujurnya aku seakan melihat seluruh alam semesta melalui matamu. Ketika namaku kau sebut, terasa seakan gempa di dalam hatiku. Aku tidak bisa hidup tanpamu, sama seperti jasad yang tidak bisa hidup tanpa nyawa. Kau tetap cantik meski dalam kepenatan. Kau tetap cantik meski ketika itu kau tidak lagi kuat untuk membawa kantung di bawah matamu. Aku merindukanmu dalam setiap hela nafasku. Aku sebut namamu dalam setiap bait doaku. Ketika ada yang bertanyakan alamat rumahku, aku hampir menyebut namamu. Dalam sedih, kau masih tersenyum menampakkan deretan gigimu yang cantik. Saat kau gembira, burung mulai bernyanyi. 

Kau tanyakan atas alasan apa aku menyintaimu, dan aku katakan cukuplah sekadar kau tahu bahawa aku tidak punya alasan untuk tidak menyintaimu.

Sabtu, November 8

aadc

Detik tidak pernah melangkah mundur
Tapi kertas putih itu selalu ada
Waktu tidak pernah berjalan mundur
Dan hari tidak pernah terulang
Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru

Kelmarin aku menonton mini drama Ada Apa Dengan Cinta. Baru 36 hari yang sudah aku menonton filemnya yang dibikin pada 2002. Aku menipu jika tidak mengatakan bahawa ini yang sering aku tonton tak kira waktu. Transkripsinya juga aku hafal. 

"Terus, kalau loe sekarang nggak punya temen sama sekali kayak sekarang tu, salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue, gue tanya? Loe cuma pingin nyakitin gue tau nggak loe. Loe itu nggak mau minta maaf. Loe itu cuma pingin nyakitin gue, jelek-jelekin gue sama temen-temen gue. Loe gue bilang ya, loe itu bener-bener udah sakit jiwa."

Nah, begitu sekali aku hadam. Tapi memang sedap kalau ikut cakap sekali dengan Cinta bila tiba scene ini. 

Jadi ada apa dengan mini drama AADC 2014 ini? 12 tahun berlalu tanpa kelanjutan cerita ini, akhirnya begini jawapannya. Ringkas dan padat. Aku fikirkan memang akan ada sambungan AADC, tapi tersedar yang ianya hanyalah promosi aplikasi di telefon pintar. Ah, kecewa.

Aneh ya, kok selama 12 tahun nggak ada sekali kontaknya sih. Apakah Dian yang tumbuh secantik gitu, dengan usia mendewasa masih jomblo? Apa pekerjaannya Rangga? Photographer? Journalist?

Aku tahu ini hanya iklan doang. Tetapi kenapa nggak dibikin filemya sekalian? Bikin penasaran loe tau nggak?

Selasa, Oktober 28

where will I be in my career in the next ten years

I will be in the early thirties on ten years from now, but I honestly dont know where I will end up in my career in the next ten years. It always amazed me to see that I constantly change my answer to that question. I am still unsure where my career will lead me even after all these years in university. I have difficulty discovering a career field to devote my entire life to, a career field that worthy of my education. My plans for my career include many goals that I will have to accomplish, but only time will be able to reveal the truth in that. While many other students know exactly what field to enter after graduation and have been preparing for their future.

I keep questioning myself these questions; "why law?" or "what do you want to do with your law degree?" or "why do you want to be a lawyer?" or "why do you think that you're suited to a career in law?" Yes, it has some variations, but it is basically the same question. Some want the power, prestige and money they believe comes with a law degree. Some have no idea what they want to do. There are also some who find practicing law an exciting and rewarding career. For me, the decision to go to law school is not a career choice, but law is a field of study that offers a wide range of career options.

There is a big difference between wanting to study law and wanting a career in law. Sometimes I feel like I just want to do a degree in law without ever really wanting to work in the profession. But I must admit that studying law is fascinating. I often heard from my elders that the study of law would provide me with a host of career options aside from being a lawyer. I admit that I approach my study of law poorly. This is because of my attitude of treating my studies as a burden. Despite unable to take as much pleasure I would have apply myself fully, I hope to go on to bar and to qualify as an advocate and solicitor because I can see myself doing that in the future, because I think I can serve well in that profession.

Most people go to law school because they dont know what else to do. I am certainly one of those people. They are ambitious, smart and want to achieve success. However, they are not vocally talented but still go to law school without really thinking about what it means to be a lawyer and whether they will even like it. To me, being a lawyer is that there is always some other lawyers waiting to tear you down. There will always be lawyers to tell you just how crappy your argument is. Lawyers spend hours, days and weeks working on a case. There are no time outs for hobbies, illness, vacation, families or depression. I will make sure that my career as a lawyer should leave room for a family life as well. 

I know a lot of lawyers who are most of them are happy. In ten years from now, I know that I like my profession as a lawyer. Maybe I did not really know what I would do when I went to law school, but for some odd reason, I will be really exciting arguing or defending my clients. I know that I will be spending hours at work but I am confident that I will make it through. All I can do is my best. And from what I have seen, happy lawyers are the ones that do their very best and at peace with that.

However, I know that it is not an easy profession. I know that I will keep questioning myself; "are you sure you want to do this?" I will be a lawyer and I will argue for what is right and do what is right and use my analytical brain. But at the same time, I really do not see myself in a legal career for a long term. There will be restless nights sleep and feeling trapped in the career. Being a lawyer usually means fighting every day while you are on the job. The whole job is a fight. As a lawyer, you always representing someone else because that's what lawyers do. You dont decide to bring a case or decide to settle. You just do paperwork. And if you win, it is the client's win.

In ten years from now, I will be practicing from a law firm or maybe I am a partner in my own firm. I may be enjoy practicing law at the beginning of my career but at the same time I might as well find myself trapped working for a partner and find a way to leave the profession. Maybe after several years of working as a lawyer, I will be applying for teaching in a university. I may also applying for other professions and I know that would not be easy because of the qualification and academic requirement. And if I failed to leave my profession as a lawyer, I might as well just accept the fact that I am destined to stay in the profession. 

In my honest opinion, lawyer is the best job in the world. I get paid to read, write, think, talk and argue. These are the things I would do anyway. In ten years from now, I love being a lawyer because I can make a difference in someone's life. Once in a while, I get the opportunity to help someone who desperately needs my help. It is not just about doing job, but it is a thinking profession. I know that I love being a lawyer because I love protecting people in a court of law. I love the feeling of accomplishment I get from helping others fight - win or lose. 

Certain things about lawyering are intuitive to me. I like dressing up, I like writing and I like meeting new people. And most of all, I like helping people. However, in the endeavors to fight for a better working condition as a lawyer, I need to improve myself. It is at this point that my education becomes very important. This is because, in ten years of practice, nobody really cares where I am from or what I scored. Not even clients. Nobody is keen to hear how hard I studied, my hardship, what options I took, how well I did for them and so on. Because, when I get into the real world, it is more about what can I really do, not about the paper. 

I hope I have a better idea of what my future may entail and consider every point of view before making my final decision in planning my future.


*Sorry for my English. Sobs 



Isnin, Oktober 6

aku pun tak tahu

Berbulan lamanya aku menahan kemahuan menulis. Bukan kerana apa pun. Hanya mahu menghindar dari menulis yang bukan-bukan. Yang bukan-bukan bagaimana? Aku sendiri tak tahu. Barangkali tulisan yang ini.

Sewaktu aku berumur 19 tahun, aku telah menghantar 3 bab pertama tulisan aku kepada seorang penulis. Tidak lama selepas aku mengirim tulisan tersebut, aku terima email balas dari editor. Apa yang boleh disimpulkan dari isi email tersebut adalah;

- menurut editor, gaya penulisan aku okay. Apa yang okay aku pun tak tahu
- gaya penulisan aku adalah minimal. Jika ditambah baik mesti lagi power
- editor berminat dengan tulisan aku

Begitulah ringkas komen editor tersebut. Turut disertakan sekali adalah nasihat dan pandangan membina untuk memperbaiki apa yang kurang supaya boleh diangkat penerbit untuk dijadikan buku. Tapi aku noktahkan semangat aku di situ. Aku tak mahu.

Kemudian ketika usia aku 22 tahun, aku sekali lagi menghantar 2 tulisan aku kepada penerbit buku. Tulisan ala kadar saja, asal siap. Hasilnya, kedua-duanya diterbitkan di dalam buku bersama banyak lagi tulisan dari penulis-penulis lain. Kerdil dan hina saja aku jika dibanding dengan yang lain. Apa bagusnya tulisan aku, macam biasa aku pun tak tahu.

Bertahun setelah kedua-dua peristiwa tersebut berlalu, aku rasa biasa-biasa saja. Tak ada penghormatan apa lagi pencapaian untuk dibangga-banggakan. Boleh dimengerti apa sebabnya sedemikian rupa. Aku bukannya menulis buku. Menulis cerita pendek langsung tidak mengangkat seseorang itu sebagai penulis, seniman atau orang seni. Tetapi sepertimana kita malu memperdengarkan suara sendiri yang dirakam, begitu juga aku yang malu membaca tulisan sendiri.
   
Rupanya selepas fasa menulis dan kemudian diterbitkan, ianya tidak berhenti di situ saja. Fasa yang kemudiannya adalah ketika membaca komen-komen tentang penulisan aku oleh pembaca. Ada yang memuji ada juga yang kritik. Tetapi itulah. Aku ini manusia yang berlagak cool padahal dalam diam hati aku terkesan dengan komen-komen tersebut. Tetapi jangan risau. Sebelum aku dikritik, aku sudah terlebih dahulu mengkritik diri sendiri.


Because I am my worst critic. 

Sabtu, Mei 10

catatan pendek

Kau tahu, cara kita hidup adalah atas pilihan sendiri. 

Jadi, apakah kau memilih untuk selamanya kekal dalam melankoli? Merintih, menangis. Kau hidup dalam daerah sugul dan murung. Justeru kau mengharapkan tulisan kau dibaca dan pembaca turut sama simpati dengan kau. Kalau turut sama menangis itu sudah cukup bagus.  

untuk apa kau menulis?
kerana kau tak punya pilihan
kepada siapa kau menulis?
kepada insan yang melukakan

Betul kan?

Aku bukan bercakap tentang kau semata-mata. Kerana aku juga begitu. Persis. 

Keluarlah daripada kehambaran gaya penulisan yang sama. Tinggalkanlah rasa sedih. Berhentilah daripada berfikir kau tak disukai, kau mangsa keadaan, kau tak dipedulikan, dan segala rasa yang lain.

Gembirakanlah dirimu

Boleh kan?

: )